"Kita harus segera menyelamatkan mereka Lynx."Kata Leena dengan khawatir.

"Huh, apa kamu gila Leena. Mereka ada banyak dan tidak ada yang bisa melawan mereka. Apalagi cuma kita berempat." Kata Sherly dengan ketus.

"Berbagai suku?" Lynx di dalam hati memikirkan kata ini. Namun dia menyimpan pertanyaan ini untuk nanti.

"Kamu benar, Leena juga benar." Kata Lynx sambil memandang Leena dan Sherly. "Kita harus segera menyelamatkan mereka tapi kita juga tidak bisa menyerang mereka tanpa rencana" lanjutnya.

Lynx kemudian menanyakan ke Karim mengenai arah dan gambaran mengenai perjalanan suku Monrest.

Karim yang cukup memahami area ditempat itu memberikan gambaran bahwa perlu waktu berhari-hari untuk bisa sampai tujuan mereka. Karim juga menceritakan kebiasaan suku Monrest yang suka berhenti di suatu tempat setiap kali habis menjarah kampung mereka.

"Kami pernah mencoba mengikuti mereka untuk menyelamatkan keluarga kami, tapi kami tidak mampu melawan mereka. " Kata Karim. "Jika matahari baru muncul saat ini, mereka pasti bermalam dan belum sampai ke tempat itu. Kita bisa segera menyusulnya." lanjutnya.

"Apakah ada jalan pintas untuk bisa segera sampai ke tempat itu? Jika memang bisa, kita bisa menyiapkan jebakan untuk mereka." Tanya Lynx.

Karim kemudian menjelaskan cara mencapai tempat itu lewat jalan pintas. Jalannya curam dan susah dilalui, namun mereka yang sudah terbiasa mencari bahan obat-obatan dan berburu sangat mengenal area tersebut.

“Kalau begitu, kita harus segera kesana. Tapi pertama-tama, kamu harus memulihkan tenagamu.”

Karim hendak membantah, tetapi perutnya berbunyi keras, memotong protesnya. Sherly terkikik kecil, dan bahkan Leena tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Karim hanya menunduk malu.

“Baiklah,” katanya akhirnya, menyerah. “Tapi setelah aku makan, kita harus bergerak cepat.”

Lynx, Leena, Sherly, dan Karim bergerak dengan cepat melalui jalan pintas yang curam. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memberikan semburat jingga pada hutan di sekitar mereka. Namun, ketegangan di antara mereka terasa semakin nyata, terutama ketika Sherly mulai memperlihatkan gelagat aneh.

Saat mereka berhenti sejenak di puncak bukit kecil, Leena menunjuk ke kejauhan. "Itu mereka! Rombongan Monrest! Lihat, Aliah ada di sana!" katanya penuh semangat, meskipun wajahnya diliputi kekhawatiran.

Karim maju ke depan, matanya melebar. "Aku bisa melihatnya! Tapi kita harus segera bertindak sebelum mereka terlalu jauh!"

Namun Sherly mendengus pelan, melipat tangan di dada. "Seharusnya kita berpikir ulang. Dengan jumlah mereka yang begitu banyak, kita jelas tidak punya peluang. Kita cuma akan mati konyol."

Lynx memandang Sherly dengan tajam. "Kalau kita tidak bertindak sekarang, mereka akan sampai di markas Monrest, dan kita tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk menyelamatkan para tawanan."

Sherly memutar matanya dengan ekspresi jengkel. "Oh, jadi kita bunuh diri saja sekarang? Rencana brilian, Lynx."

Leena melangkah maju, berdiri di sisi Lynx. "Sherly, berhentilah bicara seperti itu. Lynx benar. Kita harus bertindak. Apa kau tidak peduli pada orang-orang yang mereka tangkap?"

Sherly menatap Leena dengan sinis. "Jangan sok suci, Leena. Kau hanya bicara seperti itu karena kau ingin terlihat baik di depan Lynx. Jangan pikir aku tidak tahu."

Leena terdiam, wajahnya memerah karena malu dan marah. Namun, Lynx segera menengahi. "Cukup, Sherly. Kita tidak punya waktu untuk ini."

Sherly memalingkan wajahnya, tetapi dalam hati ia mendidih. "Leena selalu menjadi penghalang," pikirnya. "Kalau dia tidak ada, mungkin segalanya akan lebih mudah... dan Lynx akhirnya bisa memperhatikan aku."

Leena, yang berdiri di samping Lynx, mengamati medan di bawah mereka. “Mereka bergerak lambat. Kita bisa mendahului mereka dengan mudah. Tapi apa rencanamu, Lynx?”

Lynx menatap kelompok itu dengan tajam. “Kita buat mereka terpecah. Aku akan memasang jebakan di sepanjang jalur ini. Kalau kita bisa memanfaatkan racun di sekitar sini, itu akan membuat mereka lebih lambat.”

Sherly melirik hutan di sekitar mereka dan tersenyum kecil. “Kalau begitu, kenapa tidak gunakan daun ungu? Daun itu bisa membuat mereka berhalusinasi. Mereka tidak akan tahu siapa kawan dan siapa lawan seperti saat kamu menolongku.”

Lynx menggeleng tegas. “Tidak. Itu terlalu berbahaya. Kalau mereka kehilangan kendali, mereka bisa melukai para tawanan.”

“Kau terlalu lembut, Lynx,” dengus Sherly, melipat tangan di dada.

“Aku tidak akan mempertaruhkan nyawa orang yang tidak bersalah.” Lynx menatapnya tajam, sebelum berbalik untuk memulai persiapan jebakan.

Karim dan Leena membantunya mengumpulkan cabang-cabang runcing untuk jebakan tanah, sementara Lynx mengoleskan racun dari tumbuhan yang mereka temukan.Setelah menentukan lokasi yang strategis, Lynx mulai memasang jebakan di sepanjang jalur yang akan dilewati rombongan Monrest. Leena dan Karim membantu dengan sigap, sementara Sherly tampak hanya berpura-pura sibuk.

Ketika Leena tengah mengikat cabang-cabang runcing dengan tali, Sherly berdiri di belakangnya, memegang batu besar di tangannya. Ia menatap Leena dengan tajam, pikirannya dipenuhi kecemburuan.

"Jika Leena terluka sekarang, itu bukan salahku, bukan?" pikir Sherly, tangannya mulai mengangkat batu itu.

Namun sebelum ia sempat melakukannya, Lynx memanggilnya dari kejauhan. "Sherly, aku butuh bantuanmu di sini!"

Sherly tersentak, batu di tangannya jatuh ke tanah. Ia memaksakan senyum dan berjalan mendekati Lynx. "Tentu, aku datang," katanya dengan nada manis.

Leena tidak menyadari apa yang hampir terjadi, tetapi ia merasa punggungnya dingin sejenak.

Tak lama kemudian, rombongan Monrest tiba di jalur yang telah disiapkan Lynx. Para anggota Monrest terlihat waspada, tetapi mereka tidak menyadari jebakan di depan mereka.

Lynx keluar dari persembunyian, berdiri di tengah jalan dengan busur di tangannya.

“Hei, kalian!” seru Lynx dengan suara lantang. “Apa kalian cukup berani untuk melawan aku?”

“Hentikan dia! Jangan biarkan dia kabur!” teriak salah satu dari mereka.

Para Monrest langsung bereaksi. Dua dari mereka berlari mengejar Lynx yang dengan sengaja memancing mereka ke arah jebakan. Seperti yang direncanakan, jebakan kayu runcing yang dilapisi racun aktif, membunuh mereka dalam sekejap.

"Lynx melakukannya," bisik Karim dengan mata bersinar.

Namun Sherly mendengus pelan. "Hebat, tapi tidak cukup. Ini hanya dua orang. Kau tahu kan, ada puluhan lainnya?"

Leena menatap Sherly dengan tajam. "Kenapa kau selalu negatif? Kalau kau tidak percaya pada Lynx, kenapa kau ikut?"

Sherly tersenyum kecil, wajahnya penuh ejekan. "Aku di sini karena aku tidak ingin membiarkan kalian membuat keputusan bodoh sendirian. Kau pikir aku peduli soal pendapatmu, Leena?"

Leena hendak membalas, tetapi Karim menenangkan mereka. "Hentikan kalian berdua. Ini bukan waktunya bertengkar."

Namun, ketika mereka menginjak tanah di bawah mereka, jebakan langsung aktif. Kayu-kayu runcing yang dilapisi racun muncul dari bawah dan menembus tubuh mereka. Kedua Monrest itu langsung tumbang, tubuh mereka kejang-kejang sebelum tidak bergerak lagi.

Sisa pasukan Monrest berhenti sejenak, kaget melihat rekan mereka tewas. Salah satu dari mereka berteriak, “Lapor pada Kargo! Ini jebakan!”

Lima orang segera bergerak untuk memeriksa jebakan, tetapi Leena, Sherly, dan Karim yang bersembunyi di semak-semak langsung melepaskan panah mereka.

“Sekarang!” bisik Leena.

Panah-panah beracun melesat dengan cepat. Tiga dari lima Monrest itu langsung roboh, tubuh mereka gemetar saat racun menyebar melalui darah mereka.

“Apa ini?!” salah satu dari mereka berteriak sebelum ambruk ke tanah.

Dua orang yang tersisa melarikan diri kembali ke rombongan utama. “Kargo harus tahu ini!” teriak mereka.

Sherly tersenyum kecil, tetapi bukan karena kemenangan itu. Dalam hatinya, ia berpikir. "Leena menembak terlalu cepat. Dia terlalu tergesa-gesa. Kalau aku membiarkannya membuat kesalahan besar, mungkin Lynx akan melihat bahwa dia hanya beban."

Sherly dengan sengaja menembakkan panah sembarangan pada saat Leena dan Karim berusaha menembak dua Monrest lainnya yang melarikan diri.

Leena menoleh ke Sherly, bingung. "Kenapa kau tidak menembak dengan benar? Kita bisa menghentikan mereka!"

Sherly mengangkat bahu dengan santai. "Tanganku sakit. Jangan salahkan aku."

Leena menggeram, tetapi tidak punya waktu untuk membalas. Dua Monrest itu telah kembali ke Kargo.

Di barisan belakang rombongan, Kargo, pemimpin Monrest, menatap dengan marah saat dua orang yang selamat kembali dengan napas terengah-engah.

“Apa yang terjadi?!” bentak Kargo, suaranya menggema di hutan.

“Mereka memasang jebakan, dan tiga dari kami mati! Mereka bersembunyi di sekitar sini!”

Kargo menggeram keras, menghunus tombaknya. “Jadi mereka pikir bisa bermain-main denganku? Aku akan membuat mereka semua menyesal.”

Di saat itu, Lynx kembali muncul dari tempat persembunyiannya, berdiri tegak di tengah jalan. Ia memegang busurnya dengan tenang, tatapannya penuh keberanian. Dia berdiri dengan tegap meskipun di hadapannya kini ada Kargo, pemimpin rombongan suku Monrest.

“Kau Kargo, kan?” tanya Lynx dengan nada mengejek. “Kau ini pemimpin atau hanya pecundang yang sembunyi di balik anak buahmu?”

"Kau cukup berani untuk datang ke sini sendirian," ujar Kargo dengan suara rendah penuh ancaman. "Tapi keberanian itu akan menjadi kebodohan terbesarmu."

Lynx tersenyum tipis, menyiapkan busurnya. "Mungkin. Tapi aku tidak akan mundur sebelum aku menghentikanmu."

Kargo melangkah maju, diikuti oleh beberapa anak buahnya.

Leena, Sherly, dan Karim mengamati dari persembunyian. Leena tampak tegang, tetapi Sherly hanya tersenyum kecil.

"Ayo, Lynx," pikir Sherly. "Buktikan bahwa aku tidak salah memilih dirimu."

Kargo menyipitkan matanya, lalu melemparkan tombaknya dengan kekuatan penuh. Tombak itu melesat ke arah Lynx dengan kecepatan tinggi, tetapi Lynx berhasil melompat ke samping, menghindarinya.

“Hampir saja. Tapi kau harus lebih baik dari itu,” ujar Lynx sambil menyeringai, menyiapkan panahnya.

Kargo menggeram marah. “Tangkap dia! Bunuh sekarang juga!”

Lynx tidak menunggu lama. Ia langsung melepaskan anak panahnya, yang melesat cepat dan menghantam salah satu anggota Monrest di bahu. Pria itu berteriak kesakitan sebelum jatuh ke tanah.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau menghentikan kekejamanmu!” seru Lynx lantang.

Kargo berjalan maju, mengangkat tangan untuk menghentikan pasukannya yang hendak menyerang.

Lynx tetap berdiri tegak, meskipun keringat mulai mengalir di dahinya. “Kau tidak akan bisa mengalahkanku. Ini hanya permulaan, Kargo.”

Di balik semak-semak, Leena, Sherly, dan Karim mengamati dengan cemas.


